Shisen garden: Bahasa Jepang

Kami mengundang Anda untuk memberikan komentar maupun pertanyaan di setiap artikel. Bila Anda tertarik, kami dengan senang hati menyambut Anda menjadi salah satu penulis kami.

Showing posts with label Bahasa Jepang. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Jepang. Show all posts

Wednesday, 17 September 2008

FREELANG Dictionary

Sudahkah kalian mengikuti kelas bahasa Jepang di sini? Kalau butuh kamus yang ringan, ini ada yang bagus.


Namanya FREELANG Dictionary. Bisa menerjemahkan dari Inggris ke Jepun, atau sebaliknya, tinggal klik gambar benderanya. Terjemahannya hanya dalam romaji, dan kata singkat dalam bahasa Inggris. Tapi karena itu ukurannya tidak begitu membebani. Sangat cocok dan kusarankan untuk para pemula. Kalau kalian kurang kerjaan atau sedang ingin belajar, ada juga fitur untuk latihan. Dan yang terakhir, kalian bisa menambahkan sendiri daftar kata yang belum ada, untuk yang ini tentu saja kusarankan kalian melakukannya setelah memahami struktur kalimat nihongo.

Jauh di atas segalanya, kamus ini gratis. Dan sekarang sudah sampai versi 3.7.2, mungkin saja sekarang sudah meningkat.

Download di sini/ Download here.
Baca Selengkapnya..

Tuesday, 29 July 2008

Pelajaran VII : Kanji

Sekarang kita sampai pada pelajaran terakhir mengenai huruf. Ya, huruf terakhir yang akan dipelajari adalah huruf kanji. Di awal pelajaran saya pernah menyebutkan bahwa kanji adalah kelompok huruf yang paling sulit. Itu memang benar, tapi tidak selalu demikian. Karena nantinya, jika kalian sudah bisa membaca kanji, kalian malah akan merasakan bahwa membaca kanji jauh lebih enak daripada hiragana atau katakana. Tidak percaya? Coba saja sendiri.

Saya tidak bercanda, membaca kanji yang sudah dimengerti memang lebih enak. Begini, kalau untuk menuliskannya, satu huruf kanji memang tidak akan bisa dihafal hanya dengan sekali baca atau sekali tulis, pastinya harus berkali-kali. Tapi, huruf kanji yang bisa dibilang rumit itu mempunyai keunikan tersendiri, yang membuatnya dapat dikenali hanya dengan sekali lihat. Coba bandingkan ini, 東京 dan とうきょう. Dalam jangkauan pandangan, huruf kanji barusan langsung terbaca semua karena hanya berupa 2 karakter, sedangkan hiragana yang ada di sebelahnya memakan tempat 5 karakter. Kalau ditanya mana yang lebih cepat selesai dibaca, jelas kanji.

Kuharap penjelasanku bisa dimengerti. Sekarang saya akan membahas beberapa hal mengenai kanji. Pernahkah kalian melihat huruf kanji? Semoga pernah, paling tidak, yang barusan. Lalu, pernahkah kalian melihat sebuah huruf kanji dengan beberapa huruf kecil di atasnya? Kalau kalian sudah mengikuti pelajaran yang lalu, kalian tentunya tahu bahwa huruf-huruf itu adalah huruf hiragana. Nah, huruf-huruf hiragana tersebut namanya furigana. Furigana digunakan untuk menunjukkan cara membaca huruf kanji yang ada di bawahnya. Biasanya furigana ditambahkan pada setiap huruf kanji di manga atau anime, tapi untuk anime yang memberikan nuansa 'kurang modern' (tapi bukan berarti harus tua) seperti contoh Samurai 7, furigana hanya dibubuhkan pada kanji-kanji yang dianggap sulit, tentu saja patokan 'sulit'-nya bukan pada kalian.

Selain furigana, sebenarnya masih ada yang namanya 'kumimoji'. Kalau furigana letaknya di atas kanji, kumimoji terletak di sebelah kanji, masih dalam barisan kalimat. Penggunaan ini bisa kalian lihat di artikel pelajaran bahasa Jepangnya majalah Animonster, contoh lainnya memang agak jarang. Misalnya begini, 緋村「ひむら」 dibaca himura.

Apakah ada yang mau bertanya, berapa jumlah huruf kanji yang ada? Sebuah kamus yang bisa dibilang terlengkap, namanya 'Daikanwa Jiten', memuat 50.000 huruf kanji. Banyak? jangan terlalu memusingkan itu, karena dari jumlah sebesar itu, kebanyakan sudah tidak lazim dipakai lagi. Lagian, tidak ada yang mewajibkan kalian untuk menghafal 50ribu huruf supaya bisa menguasai bahasa Jepang,kan?

Harusnya ini kuberitahu di awal, tapi tidak apa, bahwa huruf kanji sebenarnya berasal dari Cina. Ya, awalnya bahasa Jepang tidak punya tulisan, lalu belakangan tulisan-tulisan Cina masuk ke Jepang. Saat tulisan-tulisan tersebut bisa dibaca, lalu diadaptasi oleh orang Jepang untuk menuliskan bahasa Jepang, dengan perubahan dan tambahan di sana sini untuk menyesuaikan dengan gramatikal bahasa Jepang. Dan 'kanji' sendiri bila hurufnya dibaca dengan bahasa Mandarin akan berbunyi 'hanzi'(漢字), yang artinya huruf Han, atau lebih dikenal sebagai huruf Mandarin, sama saja,kan?

Onyomi

Cukup dengan sejarah, sekarang akan kujelaskan tentang cara membacanya, bagian yang mungkin sudah ditunggu-tunggu. Pada dasarnya setiap huruf kanji bisa dibaca dengan 2 cara, yang pertama adalah 音読み (on-yo-mi) dan kedua adalah 訓読み (kun-yo-mi). Onyomi sering disingkat 'on' dan kunyomi sering disingkat 'kun', jadi, bila ada on atau kun, itu menandakan yang sedang dibahas adalah cara membaca kanji. Jadi, kesimpulannya, satu huruf kanji bisa dibaca dengan berbagai cara. Kalau diambil rata-rata satu huruf ada 2 jenis cara baca, maka 50.000 huruf kali 2 = 100 cara baca berbeda.... hanya menakut-nakuti.

Apa itu onyomi? Adalah cara baca huruf kanji yang bisa dibilang 'cara baca Cina'. Begini, tadi sudah kubilang bahwa huruf kanji berasal dari Cina, dan bisa dibaca dalam bahasa Mandarin. Nah, untuk onyomi, cara bacanya terdengar tidak beda-beda jauh dari cara bacanya dalam bahasa Mandarin. Misal saja 天 (ten) dalam bahasa Jepang, yang di dalam kurung adalah cara baca onyomi, coba bandingkan dengan cara bacanya dalam Mandarin, yaitu 'tian'. Lebih terdengar seperti orang Jepang yang berusaha meniru suara orang Cina tanpa meninggalkan logat Jepangnya, ya, kira-kira begitu. Ciri-cirinya jelas, karena 'meniru' pengucapan Cina, maka onyomi kebanyakan hanya berbunyi satu silabel. Contoh lainnya seperti 'ho' pada hokage, yang berarti api, 'shin' yang berarti hati, dan lainnya. Bagi yang bisa atau pernah belajar bahasa mandarin, onyomi akan gampang sekali dikenali.

Onyomi pada satu huruf tidak hanya satu jenis. Ada onyomi yang dikenal dengan 'go-on', 'kan-on', 'too-on', dan 'kanyoo-on'. Semuanya itu pembagian lebih lanjut dari onyomi. Tidak akan kujelaskan lebih lanjut, hanya sekedar memberitahu bahwa cara membacanya banyak sekali, misalnya ini, 珠 (mutiara) bisa dibaca shu (go-on, kan-on), ju (too-on), dan zu (kanyoo-on). Lebih baik terkejut sekarang daripada nanti.

Kunyomi

Cukup dengan onyomi, sekarang kunyomi. Kalau onyomi adalah cara baca Cina, maka kunyomi adalah cara baca Jepang, sederhananya seperti itu. Berlawanan dengan on, kun (singkatan kunyomi) sering kali lebih dari satu silabel, ada juga yang hanya satu, tapi kebanyakan lebih dari itu. Ini dikarenakan yang dibaca pada kun adalah 'bahasa Jepang asli', yang sebelumnya tidak ada tulisannya, baru belakangan saat huruf Cina dikenal, digunakan huruf yang bermakna sama untuk menuliskannya.

Seperti on, ada huruf kanji yang kun-nya lebih dari satu, tapi tidak ada pembagian lebih lanjut mengenai jenis kun seperti pada on. Begitu pula sebaliknya, ada juga huruf yang hanya memiliki on tapi tidak ada kun. Contoh kanji berikut kun-nya antara lain: 西「にし」 (nishi = barat) 、東「ひがし」 (higashi =timur) 、中「なか」 (naka = tengah)、山「やま」 (yama = gunung) dan lain-lain. Untuk pemberian nama, biasanya menggunakan kun. Sekedar tambahan, ada kanji yang kun-nya sampai 5 silabel, misalnya 承る「うけたまわる」 (uketamawaru), dan 志「こころざし」 (kokorozashi).

Nah, sekarang kurasa kalian sudah mengerti mengenai kun-on. Berikutnya adalah cara menentukannya. Sebenarnya saya tidak bisa membantu banyak dalam hal ini, karena bahkan bagi orang Jepang sendiri belum tentu bisa menentukan pembacaan yang tepat untuk sebuah kanji yang baru dikenal. Kanji yang berdampingan bisa saja dibaca dengan variasi on-on, kun-kun, kun-on, maupun on-kun. Jadi, saranku supaya bisa menguasainya, belajarlah dari pengalaman, itu saja. Biasanya dalam opening-ending anime kan ada tulisan liriknya di sudut layar, nah, di situlah kesempatan yang baik untuk mempelajari kanji. Bisa juga kalau kalian punya scan cover cd lagu bahasa Jepang, pelototin saja kanji yang ada di liriknya, lumayan. Alternatif terakhir, dari kamus. Banyak kok kamus yang sekaligus memuat kanji. Tapi kalau kamusnya mahal, masih ada solusi, download saja kamus elektronik. Untuk mempelajari kanji, kusarankan untuk mencoba Jishop v 4.0. Versinya sih terserah, tapi yang sudah ku-tes adalah 4.0, freeware yang tahan 30 hari, lumayan. Selebihnya untuk kamus ini akan kubahas di post lainnya, mungkin pada freeware atau download, tunggu saja.

Sampai di sini materi pokoknya sudah selesai, mungkin akan kutambahkan sedikit trivia. Pernahkan kalian memperhatikan saat nama "Light" di Death Note dituliskan? Bila kalian memperhatikannya, maka kalian akan mendapati bahwa "light" ditulis dengan huruf kanji "月". Huruf ini sebenarnya berarti bulan, yang bisa dibaca 'tsuki'. Tapi karena pada dasarnya orang-orang Jepang cepat sekali menyerap budaya asing, jadilah 'nama alternatif nan kreatif' seperti ini. Masih banyak contoh lainnya, misalnya 天使 yang dibaca 'enjeru', meniru bunyi 'angel', meskipun sebenarnya dibaca 'tenshi'. 地球 yang dibaca 'Asu' (earth), dan termasuk 完 yang dibaca 'eNdo', nama salah seorang staff Shisen garden.

Cukup sekian dulu untuk kanji, semoga kalian tidak stres apalagi sampai muntah darah karena mempelajari kanji.
Baca Selengkapnya..

Thursday, 10 July 2008

Pelajaran VI : Hiragana

Sekarang kita akan mempelajari hiragana, kelompok huruf yang kedua. Hiragana akan sangat mudah dipahami bila kalian telah sebelumnya mempelajari katakana dengan saksama. Dalam hiragana terdapat banyak hal yang sama dengan katakana, jadi bila kusebutkan sesuatu yang agaknya asing, tidak akan kujelaskan lagi di sini karena sudah kujelaskan dalam pelajaran yang lalu mengenai katakana. Dengan kata lain, bila tidak mengerti dan tidak kujelaskan, buka kembali pelajaran sebelumnya.

Lagi-lagi, seperti katakana, hiragana terdiri atas 46 huruf dasar. Ditandai dalam tabel sebagai huruf berwarna biru, 2 huruf yang romajinya berwarna merah tidak perlu dihiraukan, karena sudah tidak dipakai lagi. Tidak perlu kujelaskan panjang lebar karena susunannya sama persis dengan katakana, hanya bentuk hurufnya saja yang berbeda. Namun demikian, bila kalian perhatikan, bentuknya bisa dibilang tidak jauh berubah, gunakan saja imajinasimu.

Kemudian 25 huruf pengembangan, yang ditandai dengan huruf berwarna hitam, terletak dibawah huruf dasar. Sama dengan katakana, huruf-huruf tersebut merupakan huruf dasar yang diberi dakuten (tanda petik), dan untuk barisan huruf ha-hi-fu-he-ho bisa diberi dakuten untuk membentuk konsonan 'p-'. Bila mengalami kesulitan mengerti, baca pelajaran yang lalu. Benar-benar tidak ada perubahan selain bentuk hurufnya.

Kemudian sisanya yang berada dalam kolom berwarna orange muda, di sisi kanan tabel. Itu semua adalah huruf kombinasi, seperti dalam katakana. Hanya huruf konsonan dengan vokal '-i' yang dikombinasikan dengan huruf ya-yu-yo, itu saja. Sedangkan di bawahnya adalah konsonan ber-handakuten dan dakuten. Sederhana,bukan?

Nah, sekarang perbedaannya dengan katakana. Bila dalam katakana digunakan satu garis horisontal untuk menandakan pemanjangan vokal (kuharap kalian mengerti), maka dalam hiragana tidak digunakan garis. Yang dipakai adalah dengan menambahkan satu lagi vokal di belakangnya. Contoh, ラーメン (raa-men) dalam katakana, bila dalam hiragana akan ditulis らあめん (raa-men). Apa terlihat perbedaannya? garis dalam katakana telah diganti dengan huruf 'a' dalam hiragana. Oh, ya, mungkin ini agak terlambat kuberitahu, tapi supaya kompi kalian bisa membaca hiragana-katakana dan kanji, kalian harus menginstal dulu paket east asian language, instalnya pakai cd WINDOWS yang kalian gunakan dalam menginstal sistem operasi.

Sebenarnya ada juga yang menulis perpanjangan nada dalam hiragana menggunakan cara katana (garis). Ya, tidak bisa dibilang benar, tapi tidak bisa dilarang juga. Jadi, bila kalian menemukan hal seperti itu, jangan terkejut dan ingatlah bahwa itu bukan standar formal.

Bicara soal ke-tidak standar-an, masih ada satu kebiasaan lagi. Yaitu menyingkat ない (na-i) menjadi ん (n). Hanya bisa dimengerti bila dilihat dalam kalimat. Misalnya begini, わからない (wakaranai = tidak mengerti) ada yang menyingkatnya menjadi わからん (wakaran). Tidak kuanjurkan, tapi tidak kularang. Ya.. seperti tadi, mengerti bahwa itu tidak formal, dan tahu kapan bisa menggunakannya.

Selebihnya mengenai aturan membaca, masih sama dengan katakana. Aturan sukuon (huruf kecil 'tsu') masih berlaku, bedanya hanya ini, menggunakan huruf yang ini : っ. Lalu mengenai ke-7 huruf kecil lainnya, masih sama, tidak ada perbedaan. Hanya, ingat ini, huruf kecil a-i-u-e-o dalam hiragana bukan termasuk huruf yang formal. Karena hiragana tidak digunakan untuk membunyikan lafal-lafal yang tidak terjangkau, tidak ada huruf modern seperti katakana. Dengan kata lain, tabel yang kuberikan sudah lengkap, dan jauh lebih sedikit daripada tabel katakana (lega, bukan?).

Dan yang terakhir, fungsi hiragana. Hiragana digunakan untuk menulis kata-kata yang asli berasal dari bahasa Jepang. Ini termasuk menuliskan percakapan, dan kata-kata yang membentuk kalimat. Misalnya か (ka) yang akan membentuk kalimat tanya, と (to) yang artinya 'dan', dan lainnya. Hiragana juga digunakan untuk menggantikan kanji. Jadi, bila ada kanji, dan akan dituliskan cara bacanya, atau bermaksud menulis cara bacanya menggantikan huruf kanji tersebut, maka digunakan hiragana. Kata sandang seperti '-san', '-chan', '-kun', '-sama', '-dono', dan lain-lain juga ditulis dalam hiragana. Dan satu lagi, bila kalian pernah melihat tulisan-tulisan kecil di atas huruf kanji, itu namanya furigana, untuk menjelaskan cara baca suatu kanji, dan ditulis juga dalam hiragana. Itu saja, dengan ini sudah selesai untuk hiragana. Sudah kubilang, kan, kalau kalian sudah menguasai katakan, bagian ini terasa sangat ringan.

Bila ada pertanyaan, segera ajukan di sini.

Baca Selengkapnya..

Saturday, 5 July 2008

Pelajaran V : Katakana - ejaan lain

Jika membaca pelajaran sebelumnya, kalian mungkin menemukan ejaan yang tidak ditemukan dalam hiragana, misal ファ (fa) dalam kata faito (fight). Aksara Katakana memang mirip dengan Hiragana, perbedaan yang terasa adalah katakana lebih fleksibel dalam hal bunyi, dimana dalam katakana dikenal adanya cara penulisan ejaan yang tidak dikenal dalam hiragana. Biasanya penulisan ejaan tersebut adalah dengan menuliskan aksara tertentu, ditambah aksara lain yang ditulis di sampingnya dalam ukuran yang lebih kecil.

Beberapa cara penulisan tersebut adalah:
* fa, fi, fe, fo, di tulis dengan menulis huruf fu ditambah aksara a, i, e atau o.
* wi, we wo, ditulis dengan menulis huruf u ditambah aksara i, e dan o.
* va, vi, vu, ve, vo, ditulis dengan menulis huruf u yang diberi tanda kutip (") ditambah aksara a, i, e atau o.
* ti dan di, ditulis dengan menulis huruf te atau de yang ditambah aksara i.
* che, she dan je, ditulis dengan menulis huruf chi, shi dan ji ditambah aksara e.
Baca Selengkapnya..

Pelajaran IV : Katakana - extra

Jika kalian mengikuti dari awal, maka kalian harusnya sudah tahu bahwa katakana digunakan untuk menuliskan nama-nama dari luar bahasa Jepang, dan itu artinya nama kalian (kalau kalian bukan orang Jepang) bisa juga dituliskan menggunakan katakana. Fungsinya? Tidak banyak, hanya bahwa nama kalian bisa bisa dibaca oleh orang Jepang yang tidak tahu huruf romawi, itu saja. Itu soal nama kalian, tapi yang menjadi perhatian kali ini adalah bagaimana cara mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dalam pelajaran yang lalu.


Setelah kalian membaca dan merenungkan tabel yang telah kuberikan, apa kalian bisa mengingat cara menuliskannya?Karena tidak apa-apa menuliskan kosa kata Jepang dalam katakana, maka coba kalian tuliskan ini :
- watashi (aku)
- anata (kamu)

Dan jawaban yang benar seperti ini, blok dulu supaya keliatan :
- ワタシ
-
アナタ

Ok, itu cuma untuk pemanasan. Sekarang aku akan menjelaskan penggunaannya yang paling umum. Katakana digunakan untuk menuliskan nama-nama asing (luar Jepang), termasuk namamu (orang Indonesia). Maka, nama-nama seperti 'America', 'Indonesia', 'Gatot Kaca', 'Paijo', 'Tukul', ampe 'Hulk' bila ditulis, akan ditulis dalam katakana. Ngomong-ngomong tentang nama aneh tadi, kenapa tidak kau coba tulis sendiri? Tapi sebelumnya akan kujelaskan caranya.

Menulis nama asing dalam katakana (memang harus demikian), dilakukan dengan menuliskan cara membacanya, bukan cara ditulisnya. Maksudnya begini, misalnya kata 'final' (dalam bahasa Inggris). Bila dituliskan, romajinya seperti ini:
-fa-i-na-ru, bukan
-fi-na-ru

karena, sudah dikatakan tadi, sesuai cara bacanya. 'Final' dalam bahasa Inggris dibacanya seperti ini : fai-nel, maka untuk katakana, dituliskan katakana yang berbunyi seperti itu. Kenapa dalam bahasa Inggris? Bukankah dalam bahasa Indo juga ada 'final'? Sederhana, karena lebih banyak orang Jepun yang tahu bahasa Inggris daripada bahasa Indo.

Nah, sekarang kau tahu kalau menulisnya dengan menirukan bunyi, maka harusnya kalian menanyakan ,"bagaimana dengan bunyi yang tidak ada dalam katakana". Hal ini bisa seperti kata-kata yang diakhiri dengan bunyi 'L', 'M', 'D', atau konsonan lainnya. Untuk yang seperti itu, terkesan agak dipaksakan, tapi sudah sangat dibiasakan.

Pertama, untuk 'L'. Bila 'L' terletak di akhir kata, biasanya akan diganti dengan ル (ru), contohnya seperti 'final' yang ada di atas. Contoh lainnya seperti 'idle' akan ditulis アイダル (ai-da-ru), dan nama 'Adel' ditulis アデル (a-de-ru). Kalau 'L'-nya terselip di tengah kata, akan diganti dengan bunyi R. Karenanya (kebanyakan) orang Jepang gak bisa nyebut L. Contohnya ini, lemon akan menjadi レモン (re-mo-n), dan melon akan menjadi メロン (me-ro-n). Huruf L itu sendiri akan ditulis エル (e-ru). Gimana, ngerti?

Kedua, untuk konsonan, seperti M, P, B, K, T, dan lain-lain. Coba kalian lihat kembali tabel katakana. Selain 5 huruf yang berbunyi vokal dan satu huruf 'N', huruf lainnya dimulai dengan konsonan. Karenanya, kata-kata yang diakhiri dengan konsonan , huruf terakhirnya akan ditulis dengan katakana yang mengandung konsonan tersebut, lalu untuk vokalnya, umumnya digunakan 'o'.
Maksudnya begini,
- fight akan menjadi ファイト (fa-i-to)
-light akan menjadi ライト (ra-i-to)
-bed akan menjadi ベッド (be-d-do)
-hit akan menjadi ヒット (hi-t-to)
-jump akan menjadi ジャムプ (ja-mu-pu), tidak selalu 'o', tergantung mana yang lebih enak didengar.
-image akan menjadi イメエジ (i-me-e-ji), sama kasusnya dengan di atas, tidak enak didengar kalau pakai 'ju'

Ketiga, untuk bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf 're' atau 'er' seperti pada 'centre' atau 'pitcher' akan ditulis dengan konsonan bersangkutan diikuti vokal a. Hal yang sama terjadi pada 'r' dalan kata 'air'. Jadi, 'centre' akan menjadi センタ (se-n-ta), dan 'pitcher' akan menjadi ピッチャー (picchaa). Diperpanjang atau tidaknya tergantung gimana kedengarannya.

Cukup untuk bahasa Inggrisnya, sekarang mari kita bahas masalah kita tadi, menuliskan nama. Dari penjelasan di atas, kalian akan mengetahui bahwa
- America ditulis アメリカ (a-me-ri-ka)
- Indonesia ditulis インドネシア (i-n-do-ne-shi-a)
- Gatot Kaca ditulis ガトット・カチャ (ga-to-t-to ka-cha)
- Paijo ditulis パイジョ (pa-i-jyo)
-Tukul ditulis ツクル (su-ku-ru), karena tidak ada 'tu', yang dipakai adalah 'su'
-Hulk ditulis ハルク (ha-ru-ku)

Sampai sini seharusnya sudah selesai, kalau mau mahir, cukup dengan latihan dan menambah pengalaman, itu saja. Bila ada yang tidak dimengerti, kenapa tidak tanyakan langsung di sini?

Tambahan untuk kalian, sebagai latihan, coba tuliskan kata-kata berikut dalam katakana:
-baka
-higher sky
-air gear
-puncher
-deodorant
-motor cycle
-training centre
-uzmack nart
-end
-pi-man
-Khrushchev
-namamu sendiri
Baca Selengkapnya..

Wednesday, 2 July 2008

Pelajaran II : Katakana - part 3

Sekarang untuk bagian yang terakhir, '36 karakter gabungan yang muncul belakangan'. Kusarankan, bila bagian sebelumnya belum dikuasai atau paling tidak, dimengerti, jangan mempelajari bagian ini dulu, untuk meringankan beban.


Kenapa kusebut '...yang muncul belakangan' ?, karena karakter gabungan seperti ini dulunya tidak ada, baru ditambahkan pada zaman modern. Gunanya untuk menuliskan bunyi-bunyi yang aslinya tidak ada dalam bahasa Jepang. Sebagai contoh, tadi ada kusebutkan bahwa tidak ada huruf yang berbunyi 'ti', maka untuk menuliskannya (misalnya untuk menuliskan nama Tidus di Final Fantasy X) digunakan kombinasi 'te-i', bacanya 'ti'. Begitu pula dengan 'u', yang sebenarnya tidak bisa diberi dakuten, tapi sekarang ada. Bacanya menjadi 'v-'. Jadi, kalau ヴ (u) berdakuten ditambah ァ (a) kecil (di sinilah guna a-i-u-e-o sebagai huruf kecil) akan dibaca ヴァ (va). Selebihnya bisa dilihat di tabel.

Sekedar tambahan, hanya ada 7 huruf kecil dalam katakana. Yaitu : ャ (ya), ュ (yu), ョ (yo), ァ (a), ィ (i), ゥ (u), ェ (e), ォ(o). Huruf ini tidak boleh berdiri sendiri, harus didahului huruf yang memungkinkan (kalau bingung, lihat tabel). Setelah itu, cara bacanya harus bersamaan (atau senempel mungkin), misalnya 'fu'+'a', bukan dibaca 'fua', tapi 'fa'. Dan bila pada konsonan sudah terkandung vokal, tidak perlu ditambahkan huruf kecil, contoh ヴ (vu) tidak perlu ditambahkan huruf kecil ゥ (u) karena ditambah atau tidak bunyinya tetap sama.

Sekarang untuk bagian yang paling akhir dari tabel, huruf ン (n). Bila berdiri sendiri, huruf ini dibaca seperti orang yang menggumam, atau seperti 'ntar' dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya, membaca seperti itu bisa diterapkan untuk setiap huruf ン yang ditemukan. Dalam romaji, huruf ン akan diperlakukan sebagai suatu huruf tunggal, tidak bergabung dengan karakter sebelumnya. Contoh, bila 'single' ditulis dalam katakana, akan menjadi 'shi-n-ga-ru', bukan 'shin-ga-ru'.

Bila dilihat sekilas, ン (n) mungkin terlihat sama dengan ソ (so), tapi sebenarnya jika ditulis dengan tangan atau menggunakan kuas, akan terlihat perbedaan yang mencolok. Huruf 'n' ditulis dengan goresan garis pendek dari atas ke bawah, kemudian garis panjang dari bawah melengkung ke atas. Sedangkan 'so' ditulis dengan garis pendek dari atas ke bawah, dan garis panjang juga dari atas ke bawah. Dan dibanding 'n', 'so' lebih terlihat seperti huruf Y, itulah bedanya.

Satu lagi perbedaan yang mungkin bisa diamati, yaitu antara シ (shi) dan ツ (tsu). Sekilas sama, tapi kali ini berbeda jauh. Dua tanda petik pada 'shi' membentuk suatu kolom (memanjang dari atas ke bawah), sedangkan tanda petik pada 'tsu' membentuk suatu baris. Ada cara sederhana untuk mengingatnya, patokannya adalah 'shi'. Ingat bunyinya mengandung 'i', dan untuk menulis huruf i adalah dengan goresan dari atas ke bawah. Saat membedakan keduanya, perhatikanlah, mana di antaranya yang kedua titiknya berjejer seperti goresan pada huruf i, itulah 'shi'.

Tabel yang kusajikan adalah tabel yang telah disederhanakan untuk pemula, hal-hal yang kemungkinan akan membingungkan telah disingkirkan. Jadi jangan kaget bila nantinya kalian melihat ada perbedaan dengan tabel dari sumber lain.

Setelah mengenal semua huruf katakana (aku anggap kalian telah hafal, semoga), sekarang saatnya untuk menambahkan tentang aturan penulisan. Pada katakana ada dikenal 中黒 (nakaguro), yaitu sebuah titik yang letaknya ada ditengah (nakaguro berarti titik yang ada di tengah). Gunanya untuk memisahkan kata dalam katakana yang terdiri atas 2 buah kata. Misalnya seperti ini, nama Itzhak Perlman, harusnya ditulis dalam katakana menjadi イツァーク・パールマン, perhatikan titik yang ada di antara イツァーク (ishaaku) dan パールマン (paaruman). Nakaguro sendiri bukan sebuah kewajiban, ini sering dihilangkan bila dianggap yang membaca sudah bisa memisahkannya dengan benar.

Yang kedua, adalah chōon. Lihat dulu contohnya, ローク・リー (rooku ree, rock lee). Chōon adalah garis panjang yang ada setelah huruf 'ro' dan 'ri'. gunanya untuk mengulang satu vokal yang ada di belakangnya. Coba lihat romaji yang ada setelahnya, chōon setelah huruf 'ro' membentuk tambahan vokal 'o', dan chōon setelah huruf 'ri' menambah satu huruf 'i'. Sehingga vokal dari keduanya dibaca 2 kali lebih panjang. Hal yang sama berlaku untuk kasus lainnya. Dan jangan dibingungkan dengan huruf kanji 'satu' yang tulisannya sama dengan chōon. Kanji 'satu' dibaca 'ichi', jauh berbeda dengan chōon. Bedakannya adalah dengan melihat huruf di sampingnya, bila sekelilingnya adalah katakana, maka kemungkinan itu adalah chōon. Tidak selalu begitu, jadi, gunakan juga feeling dan pengalaman.

Dan ini mungkin yang terakhir, sokuon. Yaitu huruf ッ (tsu dalam huruf kecil). Tidak kumasukkan dalam kelompok huruf kecil karena fungsinya berbeda. sokuon berguna untuk menambah konsonan di depannya. Contoh, ベッド (beddo, bed, tempat tidur), perhatikan huruf di tengahnya. Itu adalah sokuon, di sana ia berfungsi menambah konsonan huruf di depannya (do). Harusnya bisa dimengerti jika melihat romaji yang ada. Jadi, kalau sokuon ada di belakang misalnya huruf 'te', maka sokuon menjadi huruf 't' dalam romaji, begitu seterusnya.

Akhirnya selesai untuk bagian katakana. Tidak kusangka akan sepanjang ini. Tapi tidak apa, bila kalian menguasai bagian ini semua, maka untuk bagian hiragana dan kanji tidak akan terlalu membutuhkan penjelasan.



Baca Selengkapnya..

Pelajaran II : Katakana - part 2

Sekarang tahap berikutnya, yaitu 25 huruf pengembangan. Bila kalian sudah menghafal ke-48 huruf di tahap pertama, ini harusnya terasa sangat mudah. Pengembangan yang dimaksud tidak lain hanyalah sebuah tanda petik ( " ) yang ditempatkan di bagian kanan atas setiap huruf. Tanda petik ini dinamakan dakuten, bila karakter dasar diberi dakuten, maka cara bacanya akan berubah. Berubahnya pun tidak jauh-jauh amat, dan terkesan sangat gampang (tentu saja relatif). Huruf dasar yang bisa diberi dakuten hanyalah huruf konsonan. Sebenarnya dalam bahasa Jepang tidak ada istilah konsonan-vokal, tapi kalau bisa dimengerti ya gpp-lah.


Konsonan tersebut adalah ka-ki-ku-ke-ko, sa-si-su-se-so, ta-chi-tsu-te-to, dan ha-hi-fu-he-ho. Bila disingkat untuk memudahkan mengingat, jadi ka-sa-ta-ha. Berubahnya jadi apa? Sederhana, 'ka' akan menjadi 'ga', 'sa' akan menjadi 'za', 'ta' akan menjadi 'da', dan 'ha' menjadi 'ba'. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, mungkin seolah lidah kita menjadi agak lunak, tapi aku yakin, tidak perlu kujelaskan panjang lebar pun bisa dimengerti perbedaannya. Satu hal yang harus diingat, 'si' tidak menjadi zi, tapi menjadi 'ji', begitu pula dengan 'chi'. Lalu 'su' dan 'tsu' sama-sama akan menjadi 'zu'. Entah atas dasar apa, tapi aku yakin kalian tidak akan salah sebut.

Lagi-lagi pengecualian, tapi tetap hanya sedikit. Khusus untuk 'ha'-'hi'-'hu'-'he'-'ho', kalau diberi dakuten (tanda petik) akan menjadi bunyi berbasis 'b', dan bila diberi handakuten (yaitu sebuah tanda bulat kecil di tempat yang sama dengan dakuten) bunyinya akan berubah menjadi berbasis 'p'. Hal ini jadi seperti angka yang berpangkat 2, dan berpangkat 3. Bila berpangkat 2 (dakuten, tanda petik) maka yang ada adalah 'ba'-'bi'-'bu'-'be'-'bo', dan bila berpangkat 3 (handakuten, tanda bulat) maka yang ada adalah 'pa'-'pi'-'pu'-'pe'-'po'

Sekarang kita beralih kepada 36 karakter gabungan. Seperti biasa, jangan takut kalah jumlah. Bagian ini sebenarnya hanya gabungan antara huruf konsonan dan ketiga huruf kecil 'ya', 'yu', 'yo'. Ketiga huruf itu ditulis menjadi huruf kecil kalau ditempel dengan huruf sebelumnya untuk membentuk satu suku kata. Dengan catatan, konsonan yang boleh digabung dengan cara ini hanya konsonan yang vokalnya 'i' (ingat, setiap konsonan bahasa Jepang selalu diikuti vokal, satu pengecualian akan kita bahas belakangan). Jadi, yang bisa digunakan hanya 'ki', 'si', 'chi', 'ni', 'hi', 'mi', dan 'ri'. Hasilnya adalah karakter-karakter yang membentuk bunyi seperti 'kya', hya', 'hyu', 'myo', dan lainnya, bisa dilihat di tabel.

Untuk 15 sisanya, tidak akan ada masalah bila sudah kuasai tahap kedua tadi. Karena 15 sisanya adalah huruf-huruf konsonan ber-dakuten yang digabung dengan 'ya'-'yu'-'yo'. Hanya sekedar mengulangi, konsonan yang tidak bisa diberi dakuten adalah n- , m- , y- , r- , dan w-. Aku yakin kalian tidak bisa memikirkan konsonan-konsonan itu akan berubah bunyi menjadi seperti apa (bila menggunakan prinsip perubahan bunyi dakuten).


Baca Selengkapnya..

Pelajaran II : Katakana - part 1

Dalam sejarahnya, katakana diciptakan terakhir setelah kanji dan hiragana. Tapi dalam pembelajaran kali ini, kita akan memulai pembahasan dengan katakana. Alasannya karena katakana merupakan huruf paling sederhana dari antara ketiganya.

Katakana terdiri dari 48 karakter dasar, 25 karakter pengembangan, 36 karakter gabungan, dan 36 karakter gabungan yang muncul belakangan. Tidak perlu terkejut dengan angka yang tidak biasa itu, biasakan maka semua akan menjadi mudah diingat. Lagipula, untuk membaca ini kalian pastinya sudah menghafal 52 karakter lainnya dengan mantap, alfabet dan kapitalnya.

Sebelum memulai ada baiknya kujelaskan lebih dulu kegunaan huruf ini. Di seberang lautan sana, maksudnya di Jepang, huruf katakana digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan, atau kata-kata yang aslinya berasal dari bahasa asing (luar Jepang). Tentu saja ini hanya kalau yang menulis tidak mau menggunakan huruf romawi. Contohnya antara lain : televisi (television dalam bahasa inggris) menjadi テレビ (terebi), lalu Amerika (America) menjadi アメリカ (amerika). Dan termasuk dalam fungsi ini adalah nama-nama yang terkait bidang ilmiah, misalnya nama species dan nama mineral.

Selain nama, katakana digunakan untuk mengekspresikan efek suara. Misalnya "ping-pong", suara yang sering muncul kalau ada yang menang kuis, akan ditulis ピンポン. Artinya, suara bel pintu seperti "ting-tong", dan suara ledakan "DHUARRR" (kalau suara ledakan orang jepang emang begitu) ditulis menggunakan katakana. Buat yang sering baca manga khususnya yang masih dalam bahasa Jepang, hal ini akan gampang terlihat.

Masih banyak lagi kegunaan katakana, meskipun tidak lebih sering digunakan daripada hiragana dan kanji. Akan kusebutkan secara singkat, katakana biasa (tapi tidak selalu) digunakan untuk menulis nama perusahaan, untuk promosi tentunya. Selain itu, katakana digunakan untuk menuliskan kata serapan dari Cina, yang cara bacanya menggunakan on'yomi (akan dijelaskan belakangan di bagian kanji), kebanyakan adalah nama masakan Cina, seperti: チャーハン (chaahan, artinya nasi goreng) yang diambil dari 炒飯, termasuk di dalamnya ラーメン (ramen) yang diambil dari 拉麺 (sekarang kalian tahu kalau ramen berasal dari Cina).

Katakana juga digunakan untuk menggantikan huruf kanji yang 'terlalu sulit', umumnya terdapat di bidang kedokteran, jadi, 皮膚科 (hifuka) bisa ditulis 皮フ科 dengan anggapan huruf keduanya sulit dibaca, oleh orang Jepang tentunya. Dan satu lagi, tidak menutup kemungkinan seluruh teks ditulis dalam katakan, boleh, tapi jarang.

Baiklah, kita sudah sampai ke intinya. Di awal tadi kusebutkan katakana terdapat 48 karakter dasar, sebenarnya, hanya ini yang benar-benar harus dihafal, kalian akan tahu alasannya nanti. Jangan terlalu dipusingkan dengan sisa yang lainnya, fokus saja pada yang ini. Berikut ada tabel ke 48 karakter itu, yang tiap kolomnya terbagi secara vokal, coba diperhatikan, setelah baris pertama, beris berikutnya hanyalah baris pertama yang diberi konsonan, setidaknya begitulah yang terlihat dalam bahasa Indonesia. Dan untuk menghafal konsonan yang ada, mungkin 'mantra' ini akan membantu : a-ka-sa-ta-na-ha-ma-ya-ra-wa. Cara membaca 'e' adalah sama dalam kata 'enak', ingat, tidak ada 'e' seperti dalam kata 'telur' pada bahasa Jepang.

Ah, hampir terlupa. Khusus barisan ta-dsl (dan selanjutnya), urutannya beda sendiri. Dalam bahasa Jepang aslinya tidak ada 'ti' dan 'tu', jadi urutannya bukan ta-ti-tu-te-to, tapi ta-chi-tsu-te-to.

Dan pada baris ha-dsl, hu diganti menjadi 'fu'. Lalu bagaimana kalau mau mengucapkan hu? Percaya atau tidak, lidah orang Jepang begitu kakunya sampai lebih memilih menggantikannya dengan 'bu'.

Apa sudah mengerti? untuk menghafalkan kolom kedua cukup mengganti 'a' menjadi 'i', dan seterusnya sampai o. Lalu dengan mengingat bahwa tidak ada 'yi', 'ye', 'wi', 'wu', 'we', terhafalkanlah semua romajinya. Tinggal menghafal hurufnya, dan selesailah tahap pertama.Sebagai tambahan, tapi tidak penting, 'yi' dan 'ye' tidak ada karena digantikan oleh 'i' dan 'e', yang akan memiliki fungsi yang sama dengan 'ya', 'yu, dan 'yo' saat menjadi huruf kecil, sekali lagi, tidak perlu terlalu dipikirkan, nantinya akan mengerti sendiri. Lalu untuk 'wi' dan 'we', keduanya memiliki huruf katakana masing-masing, tapi seiring berlalunya zaman, keduanya sudah obsolet (tidak digunakan lagi). Untuk 'wu', mari kita anggap memang tidak ada sejak awalnya, bila memang terpaksa harus menuliskan bunyi 'wu', gunakan saja 'u'.
Baca Selengkapnya..

Pelajaran I : Mengenal bahasa Jepang

Untuk bisa membaca bahasa jepang, dibutuhkan kemampuan untuk bisa membaca 3 jenis huruf. Yaitu huruf hiragana, huruf katagana, dan huruf kanji. Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu romaji. Tapi bisa dibilang tidak perlu kita pelajari. Mengapa? Karena romaji ditulis menggunakan huruf romawi (makanya dinamai romaji), dan sungguh beruntung bagi mereka yang berbahasa Indonesia, karena cara membaca romaji sama persis dengan cara membaca huruf dalam bahasa Indonesia. Lagipula, hiragana dan katakana yang muncul nantinya akan ditulis juga dalam romaji supaya bisa dibaca oleh para pemula.


Sebelum mulai mempelajari katakana, mungkin harus kuberitahu beberapa hal mengenai cara membaca romaji. Romaji memang dibaca layaknya membaca tulisan bahasa Indonesia, tapi selain logat (yang mungkin saja bisa ditiru oleh beberapa orang), dalam pembacaan tidak disertai nada tertentu. Usahakan kata-kata yang diucapkan singkat dan tidak dipanjang-panjangkan. Mungkin kalian pernah dengar bahwa dalam bahasa Jepang ada huruf yang dibaca panjang, sebenarnya itu tidak benar. Yang seperti itu tidak lain adalah dua huruf vokal yang berjejer, sehingga membacanya 2 kali lebih panjang, bukan karena satu huruf yang dibaca panjang.

Untuk 'shi' atau 'si', memang seharusnya dibaca dengan ada bunyi desisan, tapi jangan terlalu ditunjukkan, karena nantinya malah kedengaran aneh. Dan penulisan yang benar untuk romaji seharusnya adalah 'shi', bukan 'si'. Bila nantinya kalian menemukan ada yang ditulis dengan 'si', harap masing-masing membetulkannya sendiri. Kulakukan karena untuk menghemat energi mengetik, harap maklum.

Ada satu lagi, yaitu pada 'n'. Huruf 'n' dibaca dengan bunyi seperti menggumam atau dalam kata 'ntar'. Tapi adakalanya 'n' juga dibaca menjadi m atau ng tergantung menempel di kata apa. Misalnya, jika menempel pada kata sandang -chan, lebih sering dibaca menjadi -ng, semata-mata karena kebiasaan, tidak ada yang lain. Namun, disarankan untuk tetap membacanya sebagai n, bila sudah memahami betul atau sudah yakin dengan cara baca suatu kata, barulah terapkan cara baca tersebut.

Nah, selamat membaca.

Baca Selengkapnya..
Valuebux!